Meningkatkan Potensi Diri (Matius 25:14-30)


Iman Kristen - "Mengapa harus meningkatkan potensi diri? Simak renungan berjudul Meningkatkan Potensi Diri ini, dan jika Anda merasa diberkati melalui renungan ini, bagikanlah ke Sosial Media (Facebook, Twitter, Google+, dll.) Anda, agar banyak orang yang juga dikuatkan melalui renungan ini.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, dan daya.

Setiap orang memiliki potensi di dalam dirinya, sejak ia terlahir di dunia ini.

Maksudnya, sejak lahir manusia telah diberikan potensi atau kemampuan diri yang dapat dikembangkan lebih maksimal melalui lingkungan, pembelajaran, dan pergaulan.

Potensi dapat diibaratkan sebagai bakat. Bakat seseorang dapat terlihat sejak usia dini, bila dikembangkan atau diasah hari demi hari, maka ia akan menjadi semakin profesional atau ahli dibidangnya.

Maksud judul meningkatkan potensi diri adalah potensi yang sudah ada atau yang sudah kita kembangkan selama ini, seharusnya terus kita tingkatkan menjadi level profesional.

Seperti seseorang yang memiliki kemampuan bernyanyi, maka perlu ia tingkatkan kemampuannya itu. Seseorang yang bisa bermain musik, ia seharusnya terus meningkatkannya sehingga semakin lihai, bagus, dan tampil mengesankan.

Begitu juga dengan seorang pengkhotbah atau biasa berkhotbah, seharusnya ia semakin mantap dalam berkhotbah, semakin dinamis, isi khotbah berkualitas, mudah dimengerti, menyemangatkan, dan isi khotbah mudah diingat orang.

Bahkan dalam keahlian tertentu, termasuk berbahasa Inggris, berbisnis, IT, juga dalam segala bidang atau aspek kehidupan, kita perlu meningkatkan performa kita agar semakin bagus, tampil bersaing, dan tentu semakin ahli di bidangnya.

Tuhan menciptakan manusia di dunia bukan tanpa potensi. Banyak sekali tokoh inspirasi yang memiliki kelemahan tubuh, namun akhirnya mereka menemukan potensinya dan mengembangkannya. Bahkan, orang-orang seperti mereka bisa menjadi lebih hebat di bidangnya dibandingkan mereka yang sempurna secara fisik.

Contohnya, Stevie Wonder yang buta sejak kecil, menjadi seorang pencipta lagu, penyanyi, dan produser rekaman. Ada juga, Lena Maria Klingvall, terlahir tanpa memiliki kedua lengan dan dengan kaki kiri yang lebih kecil dari ukuran normal, tetapi menjadi perenang yang hebat. Dan masih banyak lagi yang tampil hebat meski cacat fisik.

Potensi diri dapat ditingkatkan oleh siapa saja yang menyadari bahwa dirinya memiliki potensi. Meningkatkan potensi, juga tidak mengenal usia. Seseorang yang menyadari bahwa dirinya memiliki potensi, maka ia akan terus meningkatkan kemampuan dirinya. Selain itu, meningkatkan potensi juga tidak berdasarkan situasi, melainkan oleh kemauan yang tinggi.

Kendala seseorang tidak dapat meningkatkan potensi diri dikarenakan faktor eksternal dan internal. Situasi, kondisi, dan lingkungan yang tidak mendukung dapat membuat seseorang tidak mengenali potensinya atau tahu potensinya namun tidak mau mengembangkannya.

Faktor internalnya adalah kemalasan, ketidaktahuan, dan keinginan yang lemah atau tidak ada kemauan yang kuat untuk mengembangkan atau meningkatkannya. Namun, faktor utamanya memang adalah dari dirinya sendiri. Potensi juga dapat digunakan untuk hal yang negatif maupun hal yang positif, tergantung kepada pemahaman seseorang akan tujuan hidup dan keinginannya.

Dalam Alkitab, potensi dapat dikaitkan dengan perumpamaan Tuhan Yesus mengenai uang talenta. Tuhan memberikan kepada masing-masing orang sesuai dengan kapasitasnya, sejauh mana ia dapat mempertanggungjawabkan dan melipatgandakan talentanya.

Ada yang lima, ada yang dua, dan ada yang satu. Namun sangat disayangkan, yang dipercayakan satu talenta malah ia sembunyikan di dalam tanah, dan ganjaran yang diperoleh adalah dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.

Begitu juga dengan potensi, setiap kita memiliki minimal satu kemampuan yang dapat kita kembangkan dan tingkatkan. Dan apabila tidak dikembangkan maka kita tidak dapat merubah situasi dan hidup ke arah yang lebih baik lagi. Bahkan bisa terpuruk.

Bila sudah dalam keadaan susah di masa yang akan datang, dimana ia tidak mampu bersaing karena tidak meningkatkan potensi diri, malah ia menyalahkan Tuhan. "Tuhan mengapa hidup saya seperti ini, mengapa saya tidak bisa menikmati hidup seperti yang lainnya," dan masih banyak lagi gerutu yang ia sampaikan Tuhan.

Dianggap Tuhan yang salah atau Tuhan yang membuatnya susah, padahal ia tidak mau belajar dan meningkatkan potensi diri di masa yang lalu atau di usianya yang masih produktif.

Apalagi bila seseorang menggunakan keahliannya untuk sebuah kejahatan. Seperti kemampuan karate digunakan untuk hal yang berbau premanisme, seperti membuat onar, merampok, menjambret, dan mencopet. Keahlian perbankan malah digunakan untuk membobol sebuah bank atau menipu orang lain dengan investasi bodong. Dsb-nya.



Hal yang terlebih mulia, sangat baik, dan Berdampak positif, baik kepada keluarga, sahabat, dan lingkungan atau orang di sekitar kita, apabila kita menggunakan potensi diri dengan tujuan untuk hal yang baik, terutama untuk kemulian Tuhan.

Tingkatkan dan pergunakanlah keahlian kita untuk mempermuliakan nama Tuhan, sehingga potensi yang telah kita tingkatkan itu, bermanfaat bagi gereja, orang sekitar, bagi keluarga kita, juga berdampak kepada upah yang akan kita terima setelah mengalami kematian jasmani dan beroleh hidup kekal. Jangan memendam potensi Anda. Cari tahu dan tingkatkan potensi diri Anda.


DOA
Bapa sorgawi, berikan kemampuan bagiku untuk melihat potensi yang kumiliki dan mampu mengembangkannya. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.


(Renungan ini adalah tulisan asli penulis yang sudah dimuat dalam Renungan Harian Manna Sorgawi, No. 212 Tahun XVIII)
;
~~ Share atau Bagikan Sekarang Juga ~~